Bagi kebanyakan dari kita semua yang sering melibatkan email dalam urusan komunikasi internal maupun eksternal, maka tak heran inbox Anda pasti sering kebanjiran email yang tidak diundang, khususnya apabila Anda tidak menggunakan filter spamming di dalam mail servernya.
Contohnya misalnya sewaktu saya periksa email yang tidak diundang (unsolicited emails) yang masuk ke mail server saya yang telah dipasang filter spamming otomatis antara suatu periode dari tanggal 8 Mei hingga 10 Mei 2004 (mulai jumat sore sampai senin pagi), saya mendapati bahwa ada begitu banyak junks emails yang masuk namun berhasil disaring di mail server :
Dari tanggal 8 Mei hingga 10 Mei 2004
Banyaknya email yang tersaring oleh filter spamming 203
Jumlah junk emails 131
Jumlah email yang sudah dibersihkan 25
Seperti yang Anda lihat data di atas, email-email yang berasal dari para pelaku
spammers berjumlah lebih dari 2/3 yang memenuhi inbox saya. Bayangkan bila tidak
dihadang oleh filter spamming! Maka ini pasti akan menyita waktu saya untuk
memilah milahnya.
Kategori Email Sp@mming
Rupanya rata-rata email spamming yang masuk ke inbox adalah email yang
memberikan penawaran “produk-produk kesehatan” yang notabene adalah obat-obatan
seperti Viagra, Xanax, atau pil-pil diet. Mengapa karena jenis spamming dengan
isi penawaran email seperti itu mendapat banyak respons dari resipien dan
merupakan sektor bisnis yang paling menguntungkan bagi para spammer.
Penawaran lewat email spamming di atas yang berisi produk-produk kesehatan
memang masih di dominasi oleh para spammer dari luar negeri, sedangkan di
Indonesia para spammer lebih banyak menawarkan program-program sejenis money
game dan mlm entah hasil produksi kreativitas anak bangsa maupun produk-produk
mlm atau money game yang berbasis afiliasi dari luar negeri.
Selain itu email spamming yang menawarkan produk-produk yang menghasilkan
keuntungan berbasis konsep viral. Rupanya karena penawarannya terlalu
menjanjikan keuntungan uang yang muluk-muluk tanpa melibatkan kerja keras dan
inovasi, maka banyak dari kaum muda Indonesia terpengaruh oleh hasrat “ingin
menjadi cepat kaya”.
Selain itu isi dari aktivitas spamming di Indonesia juga termasuk penawaran
produk atau jasa mulai dari pinjaman bank, dan agen-agen pemasaran free lance
untuk kartu kredit dan dari pihak penyelenggara seminar-seminar.
Kategori spamming yang menjanjikan “cepat kaya” lewat program berbasis viral,
dalam bentuk money game atau MLM ini menyumbang sekitar 72,3% dalam inbox saya
untuk kategori email spamming yang berasal dari Indonesia, sedangkan secara
keseluruhan email spamming yang masuk dari luar negeri, 41% adalah email
spamming yang menawarkan obat-obat seperti Viagra, Xanax, serta obat untuk alat
vital dan pil diet lainnya.
Hal ini popular dan lebih menguntungkan karena memang kurangnya kendali
perundang-undangan, sehingga banyak orang juga sekarang khususnya di luar
Indonesia yang menggunakan internet untuk membeli obat-obat jenis di atas karena
lebih murah dan mudah didapat lewat jalur yang cepat. Saya heran juga mengapa
mereka tidak terpikir bahwa umumnya obat-obat jenis itu sering kali di bawah
standar, atau tidak legal dan berasal dari negeri-negeri di Eropa Timur atau
Turki.
Kategori lain kedua yang popular dari email spamming setelah obat-obatan juga
termasuk produk-produk keuangan seperti pinjaman, pegadaian dan sejenisnya dan
ini menyumbang sekitar 37,8% dari email spammer yang saya cek masuk ke mail
server saya. Tetapi kategori jenis ini di Indonesia menempati urutan ketiga
setelah kategori produk-produk atau jasa yang dijual langsung termasuk yang
menjual seminar-seminar dan pelatihan di jabotabek.
Sedangkan email spamming yang berbau pornografi sekitar 5% dari email yang masuk
di bulan Mei ketika saya evaluasi. Mengapa email yang berbau pornografi lebih
sedikit dibandingkan bulan-bulan sebelumnya? Karena ini ada hubungannya dengan
musim tutup buku.
Pengaruhnya Terhadap Perusahaan
Jelas aktivitas email yang tidak diinginkan ini sangat mempengaruhi setiap
karyawan yang memiliki email dan akibatnya adalah kurangnya produktivitas setiap
tahunnya. Dan jelas para spammer telah memenangi perang terhadap kendali dari
inbox resipien.
Menariknya dalam laporan yang diterbitkan oleh Nucleus Research bahwa penerapan
undang-undang Anti Spam, CAN-SPAM Act dan diterapkannya teknologi untuk
menghadang pesan-pesan email komersial yang tidak diinginkan tetap menyebabkan
masih lolosnya email spamming ini sehingga mengakibatkan turunnya produktivitas
karyawan. Biaya investasi yang tersangkut belum seberapa ditambah dengan biaya
yang telah dikeluarkan untuk staf TI, perangkat lunak dan keras terkait, juga
bandwidth yang mampet karena aktivitas spamming sehingga menimbulkan dampak yang
kurang diharapkan dalam bentuk perceived brand yang dirasakan oleh pihak
pelanggan terhadap customer service.
Bayangkan dibandingkan 10 bulan yang lalu, kita menerima dua kali email spam
lebih banyak. Artinya kalau dulu kita biasa menerima 13 email spam, dan sekarang
kita menerima lebih kurang rata-rata 29 email spam.
Kesimpulannya dari pengaruh spamming ini terhadap suatu organisasi dan individu
adalah :
• Berkurangnya produktivitas kerja per karyawan per tahun berkisar 1.4% hingga
3.1% hingga awal tahun 2004
• Rata-rata karyawan menerima email kalau diprediksi dan dijumlahkan tahun ini
bisa mencapai 7500 email spam, bandingkan jumlah ini hanya 3500 di tahun 2003!
• Perusahaan yang menggunakan filter spamming ternyata hanya mampu menghadang
20% dari semua email yang masuk diprediksi di tahun 2004 ini, sedangkan 26% di
tahun 2003.
Menghadang Spamming – Perlukah?
Lembaga yang sama memprediksi bahwa menurunnya produktivitas kerja hingga USD
200 – USD 2000 per tahun untuk setiap karyawan di kebanyakan perusahaan yang
sudah terbiasa menggunakan email namun tidak dilengkapi oleh teknologi
filtering.
Karena pertumbuhan yang eksponensial dari aktivitas spamming ini, maka
keefektifan dari teknologi filtering ini menjadi kelihatannya berkurang. Namun
jelas perusahaan yang menerapkan teknologi filtering menerima email spamming 20%
lebih kurang dibandingkan perusahaan yang tidak menggunakan email spamming.
Bila Anda bekerja di suatu perusahaan, maka tanggung jawab perusahaan untuk
berinvestasi di teknologi filtering, namun kalau Anda seorang professional yang
independen, maka perlu rogoh kantong sendiri. Kalau begitu pasti Anda
membutuhkan filter penghadang spamming?
Lewat situs pencari, saya tampilkan hasil dari 4 filter spamming yang dapat Anda
download sendiri. Empat di antaranya adalah :
1. Email removed 3.0 -
http://eremover.bizhosting.com/contents/download.htm
2. Mail Washer -
http://www.mailwasher.net
3. SpamWeasel Free -
http://www.mailgate.com/products/spamweas/sw_feat.asp
4. Mail Box Dispatcher -
http://www.anti-spam-tools.com/
Kempat email filter di atas paling tidak memiliki fungsionalitas yang serupa.
Namun asyiknya, paling tidak keempat tersebut adalah freeware. Tunggu dulu, yang
namanya freeware belum tentu tidak berkualitas.
Filter spamming ini sangat cerdik. Memiliki berbagai rules yang dapat kita
setting untuk menentukan kategori tertentu dari suatu email apakah itu spamming
atau bukan. Akan tetapi saya pun mendapati bahwa ada beberapa gelintir email
yang masuk sebenarnya bukan email junks namun dianggap sebagai email junks.
Dan apabila itu terjadi, maka mudah sekali karena saya tinggal masukkan
alamat-alamat email itu ke daftar kategori email yang bukan spamming (exclusion
list), sehingga nantinya tidak akan dihadang oleh filter di mail server. Jadi
How spammed are you?

