“Email has had a good run as king of communications. But its reign is over.” Demikian sedikit cuplikan yang benar-benar mencengangkan dan prediksi yang terlalu berani untuk mengatakan bahwa raja komunikasi di dunia maya, email akan segera berakhir. Cuplikan ini diambil dari jurnal Wall Street Journal edisi online tertanggal 12 Oktober 2009. Jadi masih hot-hotnya. Dan ini terus menyulut ratusan perdebatan pada saat artikel ini ditulis. Bahkan prediksi matinya pun digambarkan lewat karikatur yang menarik di majalah Slate edisi November 2007 yang ditulis oleh Chad Lorenz. John C Dvorak, salah satu kolomnis PC Magazine juga sejak tahun 2004 dengan berani memperkirakan email bakal mati ( edisi 24 mei, 2004)
Nah loh, benarkah demikian? “Kita semua memang menggunakan email, tentu saja,” demikian kata Jessica E. Vascellaro sang penulis. “Namun email hanya cocok dulu sewaktu kita mulai menggunakan internet – melakukan login dan logout setelah membaca dan menjawabnya. Namun kini kita selalu “connected”, entah sedang duduk atau bergerak. Sebaliknya sekarang, karena selalu terkonek, maka ini menciptakan suatu cara untuk selalu berkomunikasi yang lebih cepat dibandingkan email, dan lebih fun,” demikian tandasnya.
Kalau Majalah Slate dan Enterprise2blog.com menyalahkan instant messaging, ponsel serta Twitter dan Facebook serta beberapa situs jejaring social lainnya yang menyebabkan akun-akun email pada Hotmail dan Yahoo ditinggalkan oleh kawula muda dan menjadi mati suri. Nah bagaimana menurut Anda sendiri, Anda bisa juga mengungkapkan ide dan argumen Anda ke saya, atau ke kolom online saya di majalah Warta Ekonomi ini.
BAKAL MATIKAH?
Sekilas pernyataan Jessica demikian, namun kenyataannya sama saja sekarang pun sekali kita sudah logging on, maka kita gak perlu login dan logout lagi. Dan juga tidak semua situs jejaring social yang memiliki fitur logging on. Memang menarik untuk mencermati bagaimana komunikasi itu bermula dan terus berkembang hingga sekarang, juga kecenderungan kita yang mengatakan yang satu mati dan diganti yang lain.
Sama seperti mesin pencari tidak akan digantikan oleh media social, demikian juga email. Namun ada konvergensi antara bentuk bentuk komunikasi. Dan mereka saling melengkapi dan menutup kekurangan yang satu entah lebih bagus atau kurang bagus.
Apakah Anda setuju beberapa defacto berikut ini berkenaan email? :
- Kantor pos tidak tutup, surat-surat tradisional pun tetap ada, walaupun pasarnya sudah berkurang. Dan orang pun masih mengirimkan kartu pos konvensional (tercetak) walaupun mereka masih bisa menggunakan telepon, email dan sms.
- Email tetap digunakan oleh situs jejaring social untuk mengirimkan notifikasi dan updates, betulkah?
- Hampir semua situs web di dunia maya memerlukan registrasi berupa alamat email. Beberapa di antaranya mulai mengintegrasikan media social ke dalam proses ini (seperti halnya Facebook Connect). Namun tetap menggunakan komunikasi email juga.
- Email sifatnya universal, sedangkan situs jejaring social tidak atau belum. Hampir semua yang konek ke internet memiliki alamat email. Dan formulir di bank atau surat CV pun mengharuskan menuliskan alamat email si pelamar atau perusahaan memberikan alamat email korporat untuk berkomunikasi bisnis. Bahkan seperti tulisan saya sebelumnya, 54% perusahaan melarang karyawannya mengakses situs jejaring social sewaktu kerja, demikian kata roberthalftechnology.com (apakah perusahaan Anda juga?)
- Masih banyak orang yang tidak dan belum berminat untuk masuk ke situs jejaring social. Anda sendiri bagaimana? Nah kepada golongan orang-orang ini, mereka sulit diyakinkan walaupun reputasi dan privasi serta security dapat menjaga mereka.
- Email sendiri terus berkembang. Berbagai inovasi terbaru dilakukan pada email dan terus terintegrasi dengan media social. Lihat saja Google terus menerus membenamkan fitur-fitur baru ke Gmail. Yahoo Mail juga demikian.
- Bahkan situs media social pun mengharuskan si pemilik akunnya menggunakan email untuk memberitahu update (nah yang ini ditambahkan oleh BillWill yang menulisnya diblog saya). MySpace (salah satu media social terbesar) juga barusan melansir Myspace Mail Service. Dan penemuan dari AC Nielsen (blog.nielsen.com) adalah bahwa orang yang menghabiskan waktu di media social juga menghabiskan waktu sama banyaknya di email.
- Juga availability email lebih terjamin, secara teknis server email tidak memakan waktu maintenance downtime hingga berjam-jam/berhari-hari, sederhana, bebas kendala, dan tidak ada coding yang ribet, demikian tambah BillWill dalam blog saya.
- Dan sehubungan dengan Google Wave (kesempatan lain kita akan bahas) pun masih dalam versi uji coba.
- Dan selama ini menyangkut sarana pemasaran dan promosi, email terbukti ampuh. Email tetap digunakan untuk meningkatkan penjualan perusahaan dan sarana cari duit oleh banyak individu lepasan. Hal ini mengapat? Karena banyak perusahaan termasuk Citibank juga pernah melakukan survey mengenai penggunaan media social di banyak perusahaan. Dan kebanyakan hanya dilakukan oleh perusahaan skala UKM saja.
DE FACTO TENTANG EMAIL
Pemasaran lewat email masih merupakan channel yang paling popular untuk para konsumen, demikian tandas Forrester Consulting dan ExactTarget. Pemasaran lewat bantuan email di AS sendiri diprediksi mencapai USD2.1 miliar hingga tahun 2012, tambah JupiterResearch.
Namun tantangan bagi para pelaku pemasaran lewat email adalah mereka harus menghadapi fakta bahwa ada 2 simbiosis yg harus dibidik, yaitu mereka yang menggunakan komunikasi lewat social media dan yang lewat email, email tidak akan punah namun hidup berdampingan.
